Dari Didikan Ayah, Mahasiswa Unimus Ksatria Firman Salim Bela Semarang di Porprov Jateng XVII

KENDAL (Pojokjateng.com) – Kecintaan terhadap Tarung Derajat mengantarkan Ksatria Firman Salim tampil mewakili Kota Semarang pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026.

Di usianya yang baru 18 tahun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) itu terus berjuang mengembangkan kemampuan melalui cabang olahraga bela diri yang telah dikenalnya sejak kecil.

Ksatria merupakan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unimus, Program Studi Ilmu Keolahragaan angkatan 2026.

Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, ia tetap menjalani latihan dan mengikuti berbagai pertandingan untuk mengasah kemampuan.

Perjalanan Ksatria di dunia Tarung Derajat tidak lepas dari peran sang ayah. Sosok yang juga berprofesi sebagai pelatih itu menjadi orang pertama yang mengenalkannya pada olahraga bela diri tersebut sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan sejak dini.

Sejak kecil, Ksatria telah terbiasa dengan latihan Tarung Derajat. Didikan sang ayah membentuk mental dan semangatnya untuk terus belajar, berlatih, serta menghadapi berbagai tantangan sebagai seorang atlet.

Baca Juga:  Bertemu Kepala Desa Se-Kabupaten Serang, Presiden Jokowi Tekankan Pentingnya Kelola Dana Desa Untuk Kemanfaatan

“Karena ayah saya juga pelatih, saya sudah mengenal Tarung Derajat sejak kecil,” ujar Ksatria, Senin (26/10).

Perjalanan meraih prestasi tidak selalu berjalan mulus. Saat tampil pada PON Aceh-Sumut 2024, Ksatria belum berhasil membawa pulang medali.

Namun, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk mengevaluasi kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya.

Kini, pada Porprov Jateng 2026, Ksatria kembali mendapat kesempatan membela Kota Semarang.

Ia turun di nomor seni gerak, meliputi kategori tunggal, gerak tarung berpasangan, serta gerak tarung beregu yang melibatkan tiga atlet.

Menurutnya, nomor seni gerak memiliki tantangan tersendiri karena membutuhkan kekompakan dan keselarasan antaratlet.

Baca Juga:  Tingkatkan Global Competitiveness, UNDIP Hadiri Undangan HSE University St Petersburg Rusia

Setiap gerakan harus dilakukan secara tepat agar penampilan sesuai dengan program latihan yang telah dipersiapkan.

“Kesulitannya di seni gerak itu kerja tim. Kadang ada teman yang tidak bisa hadir karena halangan tertentu, jadi kami harus benar-benar menjaga kekompakan,” jelasnya.

Persiapan menghadapi Porprov 2026 telah dijalani sejak sekitar satu tahun sebelumnya. Ksatria menyadari bahwa hasil pertandingan sangat dipengaruhi kedisiplinan, kesungguhan, dan kesiapan atlet dalam menjalani program latihan.

“Semua tergantung diri kita sendiri, bagaimana porsi latihan dan bagaimana persiapan yang sudah kita jalani,” katanya.

Perjuangan Ksatria juga diwarnai tantangan fisik. Sekitar satu bulan sebelum pertandingan, ia sempat mengalami cedera engkel dan bahu.

Meski demikian, kondisinya berangsur membaik sehingga ia tetap berupaya menjalani pertandingan yang diikutinya.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Resmikan Proyek Strategis Ketenagalistrikan Terbesar di Dunia

Bagi Ksatria, perjalanan sebagai atlet bukan semata-mata tentang medali. Kesempatan membela Kota Semarang menjadi pengalaman berharga untuk menguji kemampuan, memperkuat mental bertanding, dan menambah jam terbang.

Didikan sang ayah sejak kecil menjadi salah satu fondasi yang mengantarkan Ksatria bertahan dan terus berkembang di dunia Tarung Derajat.

Pengalaman belum meraih medali pada PON Aceh-Sumut 2024 menjadi bagian dari perjalanan yang mengajarkannya untuk terus berbenah dan tidak berhenti berjuang.

Kini, dengan bekal latihan, dukungan keluarga, dan pengalaman bertanding, Ksatria bertekad melanjutkan langkahnya sebagai atlet muda.

Ia ingin terus berkembang dan membawa nama Kota Semarang, dengan menjadikan setiap pertandingan sebagai kesempatan untuk belajar dan meraih prestasi.***

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *