Ribuan Jamaah Larut dalam Doa di Semarang, Peringatan Wafat Sugiyono dan Suparmiyatun Sarat Pesan Keteladanan
SEMARANG – Lantunan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, dan doa bersama mengiringi malam penuh kekhusyukan di Masjid Baitul Quddus, Jalan Gebang Anom Raya, Kelurahan Gebangsari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jumat (30/10).
Sekitar 2.000 jamaah dari berbagai wilayah di Kota Semarang dan sekitarnya berkumpul untuk mengikuti pengajian akbar dalam rangka memperingati 1.000 hari wafatnya almarhum Bapak Sugiyono dan 100 hari wafatnya almarhumah Ibu Suparmiyatun.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB hingga 00.30 WIB itu menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar untuk mengenang kedua orang tua sekaligus mengajak masyarakat memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan masyarakat, majelis tersebut menghadirkan suasana yang berbeda. Ribuan orang duduk bersama, melantunkan doa, dan mengikuti pesan-pesan keagamaan. Tidak ada sekat dalam kebersamaan itu. Semua hadir dengan tujuan yang sama, yakni mendoakan mereka yang telah mendahului sekaligus mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan.
Menariknya, pengajian akbar ini tidak hanya mengandalkan pendekatan dakwah konvensional. Panitia menghadirkan K.H. Abdur Rochim atau Kyai Joko Gogo-Goro dari Demak, yang menyampaikan dakwah melalui seni pewayangan.
Perpaduan dakwah Islam dengan budaya Jawa tersebut menjadi salah satu ciri khas kegiatan. Selain memperkaya syiar keagamaan, pendekatan itu sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan masyarakat.
Suwito: Momentum Mengenang Orang Tua Sekaligus Berbagi Kebaikan
Ketua Panitia, Suwito, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan kasih sayang keluarga kepada almarhum Bapak Sugiyono dan almarhumah Ibu Suparmiyatun.
Baginya, peringatan 1.000 hari dan 100 hari bukan hanya penanda waktu sejak kedua orang tua meninggal dunia. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperbanyak doa, mengingat kematian, serta mengajak masyarakat meningkatkan amal ibadah.
Keluarga ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bermakna bagi keluarga sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas.
“Ini merupakan bagian dari syiar Islam sekaligus bentuk penghormatan dan ungkapan cinta kami kepada kedua almarhum dan almarhumah. Kami ingin momentum ini diisi dengan kegiatan yang membawa manfaat, mengingatkan kita semua tentang kehidupan, kematian, serta pentingnya memperbanyak amal ibadah dan mendoakan keluarga yang telah mendahului kita,” ungkap Suwito.
Ia menuturkan, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari tujuan penyelenggaraan acara. Sebab, silaturahmi dan kebersamaan merupakan nilai yang harus terus dipelihara, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat.
Kehadiran sekitar 2.000 jamaah juga menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang dikemas dengan pendekatan budaya.
Kyai Joko Gogo-Goro, Menghidupkan Dakwah Lewat Budaya Jawa
Salah satu hal yang membedakan pengajian ini dengan kegiatan serupa adalah kehadiran Kyai Joko Gogo-Goro.
Pemilihan pendakwah yang menggunakan media seni pewayangan tersebut menjadi bagian dari upaya panitia menghadirkan syiar Islam dengan pendekatan kearifan lokal.
Suwito menjelaskan, seni pewayangan memiliki kedekatan historis dan kultural dengan kehidupan masyarakat Jawa. Karena itu, media tersebut dinilai memiliki potensi untuk menyampaikan pesan-pesan moral, keteladanan, serta ajaran kebaikan secara lebih komunikatif.
“Kami sengaja menghadirkan Kyai Joko Gogo-Goro karena ingin memadukan dakwah Islam dengan seni dan budaya wayang. Harapannya, pesan-pesan agama dapat disampaikan melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Jadi, ada dua nilai yang ingin kami hadirkan, yaitu memperkuat syiar Islam sekaligus melestarikan budaya Jawa,” jelasnya.
Menurutnya, budaya dan agama dapat berjalan berdampingan dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi perlu terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan yang positif.
“Kami berharap budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan leluhur yang harus dijaga, tetapi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan ajaran Islam. Melalui perpaduan dakwah dan wayang ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang religius sekaligus tetap menjaga kecintaan masyarakat terhadap budaya Jawa,” imbuhnya.
Melalui pendekatan tersebut, panitia berharap generasi muda juga semakin mengenal seni tradisional Jawa dan memahami bahwa warisan budaya memiliki nilai edukasi serta pesan moral yang relevan dengan kehidupan sekarang.
H. Sumanto Sampaikan Sambutan Keluarga, Supriyadi Tekankan Makna Keteladanan
Dalam rangkaian acara, sambutan pihak keluarga disampaikan oleh H. Sumanto Tirtowijoyo, tokoh agama yang juga menjabat Ketua Umum Pimpinan Wilayah Mathla’ul Anwar Provinsi Jawa Tengah periode 2023–2026.
Sementara itu, H. Supriyadi, S.Sos., M.A., Ketua DPRD Kota Semarang periode 2014–2019, menyampaikan bahwa peringatan wafatnya kedua orang tua tersebut mempunyai arti penting bagi keluarga besar.
Menurut Supriyadi, jasa dan keteladanan orang tua merupakan warisan berharga yang tidak boleh dilupakan. Nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan semasa hidup perlu diteruskan oleh anak-anak dan generasi berikutnya.
Peringatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengingat kembali pentingnya hubungan kekeluargaan, penghormatan kepada orang tua, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Kami turut mengucapkan terima kasih atas kehadiran, perhatian, dan doa dari seluruh masyarakat, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta semua pihak yang berkenan hadir. Semoga melalui pengajian dan doa bersama ini, almarhum Bapak Sugiyono dan almarhumah Ibu Suparmiyatun senantiasa mendapatkan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ungkap Supriyadi usai kegiatan.
Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda keluarga, tetapi juga mampu menjadi ruang memperkuat hubungan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, semangat saling mendoakan, menjaga silaturahmi, dan meningkatkan keimanan merupakan nilai yang harus terus dibangun dalam kehidupan sehari-hari.
Dikemas dengan Nuansa Religius dan Kekeluargaan
Pengajian akbar tersebut berlangsung melalui sejumlah rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia.
Acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin, dilanjutkan tahlil dan doa bersama. Berikutnya, jamaah menyaksikan tayangan video bertajuk “Suara Hati dari Buah Hati”, yang menjadi ungkapan perasaan dan penghormatan keluarga kepada kedua almarhum dan almarhumah.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pengajian dan dakwah melalui seni pewayangan oleh Kyai Joko Gogo-Goro.
Kegiatan tersebut turut mengundang sejumlah pejabat pusat di Jakarta, pejabat pemerintahan di Jawa Tengah, unsur TNI-Polri, pimpinan lembaga negara, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga masyarakat.
Dengan jumlah jamaah yang mencapai sekitar 2.000 orang, panitia sebelumnya telah melakukan persiapan dan koordinasi dengan berbagai unsur masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, lancar, dan memberikan kenyamanan bagi para jamaah.
Ketua Panitia Suwito pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Semoga seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi kita semua,” tambahnya.
Meninggalkan Pesan untuk Generasi Mendatang
Peringatan 1.000 hari wafatnya Bapak Sugiyono dan 100 hari wafatnya Ibu Suparmiyatun akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan mengenang keluarga yang telah berpulang.
Ada pesan tentang pentingnya menjaga hubungan antarmanusia, menghormati orang tua, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta merawat kebudayaan yang menjadi identitas masyarakat.
Doa bersama menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Sementara nilai-nilai kebaikan yang ditinggalkan seseorang dapat terus hidup melalui keteladanan dan amal yang diteruskan oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Dari Masjid Baitul Quddus, pesan itu hadir melalui kebersamaan ribuan jamaah. Bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, melainkan juga tentang kebaikan apa yang ditinggalkan.
Melalui pengajian akbar tersebut, keluarga besar almarhum Bapak Sugiyono dan almarhumah Ibu Suparmiyatun berharap doa yang dipanjatkan menjadi amal kebaikan, mempererat tali persaudaraan, dan menginspirasi masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai agama serta budaya.
Sebab, menghormati mereka yang telah berpulang tidak cukup hanya dengan mengenang. Keteladanan, kasih sayang, dan kebaikan yang pernah diwariskan juga perlu diteruskan dalam




