Tim Teman Hamilku Universitas Dian Nuswantoro Semarang berdiskusi dengan tenaga medis untuk memastikan akurasi dan keamanan alat Reusable, Portable Pregnancy Detector (RPPD) sebelum tahap uji klinis lapangan. Inovasi ini diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan di daerah terpencil melakukan deteksi kehamilan secara cepat dan efisien.

Dari Kampus untuk Negeri: “Teman Hamilku” Hadirkan Solusi Kesehatan Ibu di Daerah Terpencil

SEMARANG (Pojokjateng.com) – Kelompok mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang menghadirkan terobosan baru di bidang kesehatan ibu dan anak. Melalui tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMKC) bernama “Teman Hamilku”, mereka menciptakan alat “Reusable, Portable Pregnancy Detector (RPPD)”, sebuah perangkat pendeteksi kehamilan yang dapat digunakan kembali dan mudah dibawa ke berbagai daerah, bahkan pelosok (14/10).

Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap keterbatasan akses kesehatan bagi ibu hamil di wilayah terpencil. Tim “Teman Hamilku” berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menggabungkan teknologi sensor hormon hCG untuk deteksi kehamilan dan rotary encoder untuk pemantauan kondisi janin.

“Bidan di daerah 3T sering kali masih bergantung pada metode konvensional. Melalui alat ini, kami ingin membantu mereka melakukan deteksi dini kehamilan dengan cara yang lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Kanaya Salsabila, selaku ketua tim.

Baca Juga:  Gelar Aksi 'Hidupkan Kembali', Mahasiswa Udinus Tanam Mangrove dan Bersihkan Pantai Tirang Semarang
Salah satu anggota tim Teman Hamilku melakukan uji coba penggunaan alat Reusable, Portable Pregnancy Detector (RPPD) dalam simulasi pemeriksaan kehamilan. Dengan desain portabel dan ramah lingkungan, alat ini dikembangkan untuk mempermudah pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelosok Indonesia.

Desain Portabel dan Ramah Lingkungan

Salah satu keunggulan utama alat ini adalah portabilitasnya. Dengan berat di bawah satu kilogram dan desain ergonomis, alat ini mudah dibawa bahkan di daerah tanpa akses listrik stabil. RPPD hanya membutuhkan baterai isi ulang berdaya tahan lama.

Selain itu, bahan penyusun alat dirancang anti-korosif dan mudah disterilkan, sehingga aman digunakan kembali berkali-kali tanpa risiko infeksi silang. Pendekatan ini sekaligus menjawab isu keberlanjutan di dunia medis, dengan mengurangi limbah alat kesehatan sekali pakai.

Solusi untuk Daerah Pelosok

Indonesia memiliki ribuan pulau berpenghuni, namun tidak semuanya memiliki fasilitas kesehatan memadai. Tim “Teman Hamilku” berharap RPPD dapat menjadi solusi nyata bagi tenaga kesehatan di lapangan, terutama bidan desa.

Baca Juga:  UDINUS Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Erorejo lewat Inovasi dan Pelatihan

Tak hanya alat fisik, mereka juga tengah mengembangkan platform digital Teman Hamilku yang memungkinkan pencatatan hasil pemeriksaan, pemantauan data janin, dan pengiriman hasil ke dokter atau puskesmas terdekat secara daring. Sistem ini diharapkan bisa membentuk ekosistem kesehatan maternal digital yang inklusif dan terintegrasi.

Dukungan Kampus dan Program PKMKC

Inovasi ini merupakan hasil program PKM yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek). Universitas Dian Nuswantoro mendukung penuh proses pengembangan alat, mulai dari penyediaan laboratorium, pendampingan riset, hingga bimbingan menuju paten.

Tim “Teman Hamilku” kini tengah menyiapkan pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan uji klinis lapangan di sejumlah rumah sakit di Semarang untuk memastikan akurasi serta keamanan alat sebelum diproduksi massal.

Baca Juga:  Mahasiswa Udinus Gelar Kampanye Kesehatan Mental #KamuLebihDariBerharga di Taman Indonesia Kaya

Tentang Tim “Teman Hamilku”

Tim ini beranggotakan lima mahasiswa lintas fakultas — dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Komputer. Mereka memiliki satu visi yang sama: menghadirkan teknologi yang mampu menjangkau dan mempermudah pelayanan kesehatan ibu hamil di seluruh pelosok negeri.

“Temani setiap detak kehidupan sejak awal,” menjadi slogan mereka. Sebuah kalimat sederhana yang mencerminkan semangat dan empati di balik inovasi ini — membuktikan bahwa dari ruang kampus, solusi besar untuk masa depan bisa lahir dari langkah kecil penuh kepedulian.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *