Titip Bunda di Surgamu” Tayang di Semarang, Bayu Ramli Bangga Ambil Bagian Bersama Aktor Senior
SEMARANG (Pojokjateng.com) – Para pemeran film bioskop “Titip Bunda di Surgamu” yakni Kevin Julio, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, Zora Vidyanata, Bayu Ramli serta penulis dan produser Dono Indarto mengejutkan para penonton, Sabtu (14/2) malam.
Film “Titip Bunda di Surgamu” resmi tayang di bioskop Mal Ciputra Semarang. Film yang seluruh proses produksinya digarap di Kota Semarang ini menghadirkan sejumlah aktor ternama, yakni Acha Septriasa, Kevin Julio, Abun Sungkar, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, Asri Welas dan Zora Vidyanata, serta termasuk tak ketinggalan aktor asli Semarang, Bayu Ramli, yang turut ambil bagian dalam salah satu peran penting.
Dalam pemutaran film tersebut membawa para penonton berubah hening tatkala layar mulai menampilkan kisah tentang tiga bersaudara yang nyaris kehilangan arah hidupnya.
Dari awal, penonton langsung dibawa masuk ke konflik keluarga Alya (Acha Septriasa), Adam (Kevin Julio), dan Azzam (Abun Sungkar). Tiga kakak-beradik itu tengah terhimpit masalah ekonomi dan keputusan-keputusan hidup yang keliru.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya yakni merampok simpanan perhiasan sang Bunda, yang diperankan dengan penuh emosi oleh Meriam Bellina.
Ironisnya, sosok ibu yang mereka anggap “terlalu pelit” justru diam-diam menyimpan tabungan itu untuk masa depan anak-anaknya.
Ketegangan memuncak saat kabar pilu terungkap. Sang ibu mengidap kanker dan divonis hidupnya hanya bertahan sekitar satu bulan lagi. Dunia ketiga anak itu runtuh. Rasa bersalah menghantam tanpa ampun. Mereka sepakat mengakui perbuatannya.
Namun, alih-alih marah, sang ibu justru telah mengetahui semuanya. Dengan suara yang bergetar namun penuh kasih, ia mengucapkan kalimat yang membuat ruang bioskop terasa semakin sunyi: “Tabungan ini memang mamah siapkan untuk kalian semua.”
Fakta bahwa sang ibu mengetahui pelaku perampokan terungkap lewat penyelidikan polisi yang diperankan Zora Vidyanata. Sebuah detail sederhana, bekas air liur Azzam pada bungkus mi instan yang dimasaknya saat kelaparan, menjadi bukti ilmiah yang mengarah pada pelaku.
Namun cinta seorang ibu melampaui semua bukti itu. Ia memilih memaafkan sebelum diminta.
Sejak saat itu, ketiga anaknya berubah. Mereka belajar arti waktu, arti bakti, dan arti kehilangan hingga akhirnya sang bunda benar-benar berpulang.
Saat lampu bioskop kembali menyala, keharuan belum sepenuhnya hilang. Namun kejutan lain menanti. Sejumlah pemain dan kru tiba-tiba muncul menyapa penonton, di antaranya Kevin Julio, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, Zora Vidyanata, serta penulis dan produser Dono Indarto. Tepuk tangan menggema, membuat malam itu terasa semakin istimewa.
Di antara para pemain, ada satu wajah yang menyimpan kebanggaan tersendiri, Bayu Ramli, aktor asli Semarang yang turut ambil bagian dalam film ini. Ia berperan sebagai bos di sebuah stasiun televisi, atasan karakter Adam.
Bagi Bayu, meski porsinya tak panjang, keterlibatan dalam film ini adalah langkah besar dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku bangga bisa berada satu frame bersama para aktor senior dan bintang papan atas.
“Ini film yang bisa jadi teladan. Sesibuk apa pun kita, harus tetap meluangkan waktu untuk orang tua sebelum mereka tiada. Penyesalan itu selalu datang ketika waktunya sudah sangat singkat,” ujarnya.
Baginya, kisah dalam film ini bukan sekadar drama keluarga, melainkan cermin kehidupan. Banyak anak yang terlambat menyadari betapa besar pengorbanan orang tua, hingga waktu tak lagi memberi kesempatan untuk membalasnya.
Tak berhenti di sini, Bayu juga mengungkapkan bahwa ia tengah bersiap untuk proyek drama keluarga lainnya yang kembali mengambil lokasi penuh di Semarang. Ia berharap kota ini semakin dikenal sebagai kota produksi film.
“Saya ingin Semarang menjadi salah satu kota film, supaya banyak produksi dilakukan di sini,” katanya penuh harap.
Malam itu, “Titip Bunda di Surgamu” bukan hanya tentang kisah di layar lebar. Ia menjadi pengingat yang mengetuk hati, bahwa cinta orang tua tak pernah menghitung balasan, dan waktu bersama mereka adalah anugerah yang tak bisa ditunda.




