Nikmati Wisata Petik Jambu Kristal yang Manis dan Renyah di Desa Plosokerep Sragen

SEMARANG (Pojokjateng.com) – Jambu kristal sangat diminati banyak orang, tidak hanya karena kaya akan vitamin, tetapi juga karena rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah. Namun, pernahkah Anda mencoba memetik jambu kristal sendiri?

Anda bisa mengunjungi Dukuh Wates, Desa Plosokerep, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen. Di sana terdapat lahan seluas satu hektare yang ditanami sekitar 700 pohon jambu kristal. Setiap hari, buahnya selalu siap dipanen.

Hanya dengan membayar Rp10.000 per orang, pengunjung bisa memetik dan menikmati buah tersebut di tempat, sepuasnya. Jika ingin membawa pulang, harganya juga cukup terjangkau.

Eni, seorang warga Semarang, terlihat antusias memilih buah-buahan yang besar dan matang dengan teliti di antara pohon-pohonnya. Dia menekankan keinginannya pada jambu yang besar dan manis tanpa biji.

“Saya suka (jambu) yang besar, jadi puas gitu ngambilnya. Tapi, meski besar, rasanya manis, tidak ada bijinya,” ujarnya, saat ditemui di Kebun Jambu Organik Pak Mardi, Kamis (29/2/2024).

Sementara Eni memanen jambu untuk konsumsi pribadinya, Sunarsih dari Dukuh Lemahbang, Desa Plosokerep, hampir setiap hari memetik jambu kristal untuk dijual.

“Di sini jambunya beda. Lebih manis dan renyah. Makanya, banyak orang yang cari,” bebernya yang sudah berjualan sejak kebun itu bisa dipanen, sekitar delapan tahun lalu.

Permintaan akan jambu kristal cukup tinggi, dengan penjualan mencapai 10 hingga 20 kilogram per hari. Sunarsih mengaku bahwa pendapatan dari penjualan ini menjadi tambahan penghasilan bagi dirinya, yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan pabrik tripleks.

“Lumayan untuk sambilan. Saya jualnya lewat online,” ungkapnya, yang keseharian sebagai karyawan pabrik tripleks.

Pemilik kebun jambu kristal, Poni, menjelaskan bahwa kebun ini didirikan sembilan tahun lalu setelah memperoleh tanah dari hasil ganti untung proyek jalan tol.

“Ayo masyarakat Jateng, ini ada jambu kristal di Sragen. Masuk hanya Rp10.000 per orang, bisa makan sepuasnya. Kalau dibawa pulang per kilogramnya Rp15.000, kecuali kalau panen raya bisa Rp10.000 per kilogram. Pesan banyak juga bisa lebih murah,” ujar Poni.

Meskipun demikian, Poni berharap adanya bantuan untuk merapikan lingkungan kebun agar pengunjung dapat lebih nyaman berada di sana.

Sementara itu, suaminya, Mardi, menegaskan bahwa jambu yang mereka tanam adalah organik. Mardi memastikan bahwa semua pupuk dan obat-obatan yang digunakan dibuat sendiri dengan bahan-bahan organik, seperti urine kelinci dan kambing.

“Jadi, jambu ini benar-benar organik dan aman untuk dimakan,” tandasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *